Twinkle Twinkle Little Star (cerpen)
![]() |
| Gambar dari: pinterest.com |
London, 2019
Di antara remangnya cahaya dari lampu nakas, seorang gadis bernama Adora duduk berselonjor, di atas tempat tidur yang berdekatan dengan lemari kayu tua dan perapian. Selimut tebal telah melingkupi tubuhnya. Tirai putih gading yang melambai-lambai lambat diterpa angin, telah tertutup sejak matahari tergelincir di tepi langit barat.
Di sebelah gadis berambut cokelat keemasan itu, ada Elizabeth yang duduk sambil mengelus puncak kepalanya, lembut. Adora menatap ibu yang begitu disayanginya tersebut. "Ibu, dongengkan aku," pintanya. Mata hazel-nya mengerjap lucu. Biasanya, dengan menggunakan cara itu, ibunya akan langsung luluh dan bersedia menceritakan kisah pengantar tidur untuknya.
Elizabeth tertawa lembut. "Oke." Jemarinya yang lentik dan putih pucat lalu terangkat. Mengetuk dagu beberapa kali. "Ehm, bagaimana kalau aku mendongengkanmu kisah tentang seorang wanita yang bekerja sebagai pelayan keluarga bangsawan?"
Adora mengangguk penuh semangat. Apa pun kisah yang diceritakan Elizabeth, dia pasti akan menyukainya. Setiap kata demi kata yang keluar dari mulut ibunya tatkala mendongeng, bagai tongkat sihir yang mengayun di depan dirinya.
Elizabeth menarik sudut-sudut bibirnya membentuk senyum tipis. Rambut pirangnya yang lurus panjang, dia selipkan ke belakang telinga. Dia menarik udara mengisi paru-paru sebelum mulai bercerita. "Dulu sekali, ada seorang wanita muda yang berkerja menjadi pelayan di rumah keluarga bangsawan. Fulvia Winwood, namanya. Wanita itu begitu cantik dengan kulit putih dan pipi memerah seperti apel. Matanya bundar dengan iris biru keabu-abuan. Rambut brunette-nya yang panjang ikal, selalu dijepit rapi ke belakang.
"Wanita yang terkenal dengan kemurahan hatinya tersebut, begitu menyukai pekerjaannya. Tidak pernah mengeluh sama sekali karena tuan dan nyonyanya selalu memperlakukannya dengan baik. Hingga suatu saat, putra ketiga tuannya yang bernama Edward Drelincourt, datang ke rumah besar itu usai berlayar. Sejak pertama bertemu Fluvia, Edward sudah terlihat tertarik pada wanita itu. Namun, Fluvia sama sekali tidak tertarik padanya."
Adora menelengkan kepala. "Kenapa Fluvia tidak tertarik padanya? Apa Edward begitu jelek?"
Elizabeth menggeleng. "Edward justru sangat tampan. Mata birunya yang bagai laut dan rambut pirangnya yang serupa pohon mahoni, mewarisi Lady Charlotte. Sedangkan alis tebalnya yang rapi dan rahang kokohnya, mewarisi Lord Artur. Semua pelayan wanita selain Fluvia yang tinggal di rumah besar itu, sampai dibuat tergila-gila olehnya. Hanya saja, Fluvia bisa menebak bahwa Edward adalah pria yang tidak baik. Dan ternyata, tebakannya memang benar. Edward adalah pria yang manja, kasar, dan tidak punya rasa belas kasih. Hari demi hari, Edward terus mencoba mendekati Fluvia. Rayuan manis dia keluarkan demi meluluhkan hati wanita itu. Namun, usahanya nihil. Fluvia tetap tidak tertarik padanya."
Elizabeth menghentikan ceritanya. Adora yang tidak sabar mendengarkan lanjutan cerita itu, kemudian menggenggam tangan sang ibu dan menggoyangkannya pelan. "Ayo, lanjutkan Ibu."
Ibunya tersebut, tersenyum. Dia menghela napas dan lanjut bercerita, "Di suatu malam yang dingin, Fluvia yang berjalan menyusuri lorong panjang gelap ingin menuju ke ruang bawah tanah, mulutnya mendadak dibekap oleh tangan seseorang. Tubuhnya yang meronta, ditarik paksa ke belakang. Hingga dia dan orang yang membekapnya tersebut masuk ke dalam gudang. Edward. Dialah yang sudah membekap Fluvia. Di dalam ruangan yang hanya diterangi cahaya bulan dari jendela kayu itu, Fluvia diperkosa oleh Edward."
Mata Adora membulat sempurna. Gadis berumur delapan tahun itu menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua telapak tangan sejenak. "Tega sekali dia!"
"Itu belum apa-apa," balas Elizabeth, mencondongkan badan dan menyulam senyum kecil.
"Belum apa-apa?" ulang Adora, semakin terkejut.
Elizabeth menatap tangan kecil gadis itu, lalu mengusap-usapnya hangat. "Setelah dia melakukan perbuatan keji itu, Edward meninggalkan Fluvia begitu saja. Dia mengancam akan membunuh wanita itu bila dia membeberkan tindakannya pada Lord Artur dan Lady Charlotte. Fluvia terus bersedih di sepanjang malam di ruang bawah tanah. Sengaja meringkuk di sudut agar pelayan-pelayan lain yang sudah terlelap, tidak mendengar isakan kecilnya. Andai orangtuanya masih ada, dia pasti akan segera mengundurkan diri dari pekerjaannya. Dan pulang ke kampung halamannya di desa Bluebellwoods. Namun, dia sadar. Terus bersedih tak akan membuatnya membaik. Yang ada justru semakin memburuk."
"Esok hari, dia kembali bangkit. Sudah dia kubur kesedihannya dan kenangan buruk yang diciptakan Edward. Setiap berpapasan dengan pria itu, dia memasang wajah ramah seolah tak terjadi apa-apa di antara mereka. Edward pun tampak biasa-biasa saja. Satu bulan kemudian, Fluvia terbangun dengan tubuh lemah. Kepalanya pening, perutnya terasa mual. Dia muntah-muntah. Seorang pelayan yang lebih tua darinya mengatakan bahwa dia hamil. Fluvia kaget bukan kepalang. Dia tak tahu harus berbuat apa. Terbersit di pikirannya untuk mengugurkan bayi dalam kandungannya, agar dia tak diusir keluar dari rumah besar itu. Tapi, Tuhan pasti akan membencinya. Fluvia akhirnya memilih untuk tak menggugurkan bayinya. Dia menjalani hari-hari seperti biasa kembali. Lama-lama, dia merasa sayang pada janin dalam kandungannya tersebut. Perutnya yang sedikit demi sedikit membuncit, dia elus-elus lembut setiap malam. Kadang, dia bersenandung kecil."
"Lagu apa yang sering dia senandungkan?" tanya Adora tiba-tiba. Matanya berbinar ingin tahu.
"Lagu Twinkle, Twinkle Little Star. Dia suka sekali menyanyikan lagu itu untuk bayi dalam perutnya."
Mulut Adora membulat. "Oh, lagu yang sering Ibu senandungkan untukku sebagai pengantar tidur?"
Senyum Elizabeth muncul samar. "Ya."
"Ayo, lanjutkan lagi ceritamu, Ibu. Aku akan mendengarkannya lagi," ucap Adora dengan sungguh-sungguh.
Kembali, Elizabeth mengelus puncak kepala gadis itu. "Saat berjalan melewati lorong panjang malam, Fluvia dihadang oleh Edward. Dia tahu bahwa Fluvia hamil anaknya. Dia menyuruh wanita itu mengugurkan bayinya. Namun, Fluvia tidak mau. Dia tak akan mau. Dia mengatakan pada Edward, bahwa dia tak akan memberitahukan siapa ayah dari anaknya pada siapapun. Setelah tuan dan nyonya tahu, dia berjanji akan keluar dari rumah besar itu. Dan akan pergi ke desa. Jadi, Edward tak perlu khawatir. Edward pun pergi meninggalkannya. Sepertinya pria itu tidak puas dengan keputusan Fluvia, karena dia terlihat kesal dan murka."
"Fluvia bisa bernapas lega. Namun seharusnya, dia bisa menduga bahwa Edward tak akan tinggal diam. Malam itu pun datang. Malam yang dingin di musim salju, seperti malam-malam sebelumnya. Namun, terasa lebih sepi dan sunyi karena Lord Artur dan Lady Charlotte pergi ke tempat kemenakan mereka di desa. Anak-anak mereka pun turut serta kecuali, Edward yang katanya sedang demam."
Elizabeth menghirup udara melalui hidung mancungnya yang berbintik hitam. Wajah tirusnya berubah muram, bagai awan kelabu yang menggantung di langit luar. "Fluvia benar-benar bodoh. Dari situ seharusnya dia sudah mulai curiga. Namun, dia malah menuruti keinginan salah satu pelayan untuk membawakan obat ke kamar Edward seorang diri."
Adora berubah cemas. Terkaan tentang kejadian buruk akan mendatangi Fluvia, berlarian di ruang pikirannya. "Lalu apa yang terjadi padanya Ibu?"
"Masuk ke dalam kamar Edward, Fluvia tak melihat pria itu di atas ranjang. Mendadak, suara langkah kaki cepat terdengar dari arah belakangnya. Membuat Fluvia langsung memutar badan. Dia terkejut saat mendapati Edward membawa sebuah kayu besar di tangan. Dengan satu gerakan cepat, dan tanpa sempat menghindar, pria itu memukul kepala Fluvia dengan benda tumpul tersebut. Kepala Fluvia terasa pecah. Cahaya muncul di matanya bagai kilat petir. Selanjutnya, dia merasakan perutnya ditusuk pisau berkali-kali. Teramat sakit, itu yang dia rasakan."
Adora meringis mendengar lanjutan cerita ibunya. Rasa sakit yang dialami Fluvia, bagai merambati seluruh tubuh kecilnya. "Dia selamat?"
Wajah cantik Elizabeth semakin bertambah muram. "Tidak. Fluvia harus kehilangan nyawanya di sana. Di tangan Edward."
Air mata jatuh membasahi pipi Adora. "Kenapa hidupnya berakhir dengan tidak bahagia seperti itu?" lirihnya. Setelah ini, dia tak akan mau bila Elizabeth menceritakan kisah yang tidak berakhir bahagia.
Elizabeth menarik sudut-sudut bibir ke atas sambil menyeka air mata Adora menggunakan jemarinya. "Gadis Kecilku, hidup tidak selalu berakhir dengan bahagia. Jadikan kisah yang Ibu ceritakan tadi, sebagai pelajaran untuk selalu bersikap waspada terhadap siapapun." Dikecupnya pipi Adora penuh sayang. Lantas, membetulkan letak selimut gadis itu. "Seperti biasa, Ibu akan menyanyikanmu lagu pengantar tidur. Twinkle, Twinkle, Little Star."
-oOo-
Pintu kayu berukiran rumit itu, dibuka Elizabeth dari luar. Dengan ditemani sepatu boot, kedua kakinya melangkah anggun memasuki rumah besarnya. Seorang pelayan wanita mengenakan apron putih segera menyambut. Elizabeth melepas mantel, lalu memberikannya pada Susan.
Pertanyaan rutin sepulang dari bekerja, lalu dia keluarkan, "Adora sudah ada di dalam kamarnya?"
Susan mengangguk pelan, tertata, seperti pelayan pada umunya. "Sudah, Nyonya."
"Aku ingin melihatnya dulu," ujar Elizabeth sambil lalu.
Menaiki tangga melingkar, dia pun berjalan melewati lorong panjang. Lampu-lampu dengan cahaya temaram, menempel di dinding kelabu kanan dan kirinya. Rumah peninggalan kakek buyutnya itu benar-benar tampak tua.
"In the dark blue sky you keep... and often through my curtains peep... for you never shut your eye... till the sun is in the sky...."
Alis Elizabeth saling bertaut saat mendengar suara seorang wanita menyanyikan lagu pengantar tidur tersebut. Suaranya lirih dan sarat kesedihan. Elizabeth memelankan langkah mendekati kamar Adora. Suara nyanyian itu berasal dari sana.
"As your bright and tiny spark... lights the traveler in the dark...."
Pintu kamar Adora ternyata tidak tertutup rapat. Terbuka sedikit, hingga menciptakan celah. Elizabeth mengintip lewat celah pintu yang terbuka tersebut. Tangannya langsung bergetar hebat. Napasnya tercekat. Darah seolah dikuras habis dari tubuhnya.
Siapa wanita berpakaian pelayan dengan kepala penuh darah yang duduk di dekat putrinya tersebut?
"Though I know not what you are... twinkle, twinkle, little star."
-End-
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini, xoxo :)
Surabaya, 09 Maret


Comments
Post a Comment