Suatu Malam di Bulan September (cerpen)

Gambar dari: pinterest.com

Hidup Laura tak pernah lepas dari kemewahan. Terlebih, semenjak bisnisnya melaju pesat. Ke mana pun dia melangkah, Louboutin, Prada, dan Chanel, akan selalu menemaninya. Roll Royce hitam kesayangan yang dia beri nama Jojo, tak lelah mengantarnya ke outlet-outlet pakaian mewah yang tersebar di setiap sudut Kota Surabaya.

Bila malam minggu tiba, bukan kekasih hati yang akan mengajaknya makan dan bercakap-cakap di restoran favorit yang sering dipenuhi orang berjas dan bergaun mewah, melainkan para sahabatnya yang semuanya adalah sosialita. Laura rela menghabiskan rupiah demi rupiah hanya untuk mengadakan pesta yang bisa dinikmati oleh sahabat-sahabatnya tersebut.

Dia bahagia dengan hidupnya yang seperti ini.

Sampai suatu malam, di bulan September, dia duduk menyilang tungkai di bangku panjang rumah makan soto ayam seorang diri. Iya, seorang diri. Tidak ada sahabat-sahabat yang biasa menemaninya. Jojo pun tak lagi bisa mengantarnya ke mana-mana. Angin malam mengajak bertegur sapa, pandangan Laura berlabuh ke jalanan yang macet di sebelahnya, pikirannya menerawang.

Sekarang, dia merasa tidak bahagia.

Perusahaannya telah dinyatakan pailit lantaran dililit utang. Dia memilih menjualnya. Jojo dia jual demi membayar sewa apartemen dan melunasi kartu kredit. Tak usah tanya tentang uang tabungan. Uang tabungannya yang memang tidak seberapa, sudah dia habiskan untuk bersenang-senang dengan para sahabatnya sebelum dia jatuh miskin seperti ini. Dan di mana sahabat-sahabatnya? Mereka perlahan menjauh dari Laura ketika tahu wanita itu bangkrut.

Kini, Laura tahu. Sahabat-sahabatnya yang dia kira tulus, ternyata hanya berpura-pura. Mereka hanya menginginkan uang Laura. Seperti kata pepatah, habis manis sepah dibuang. Menyesal pun tak ada guna. Penyesalan itu hanya mampu dia telan sepenuhnya.

Laura menarik napas dalam. Tak tahu harus bagaimana setelah ini. Apa hari esok dan seterusnya dia tetap akan bisa hidup bila uang di dompet saja sudah menipis? Kenapa sampai detik ini dia belum juga mendapat pekerjaan?

Mendesah frustasi dan memutar kepala, matanya pun tanpa sengaja melesat ke seberang jalan. Memicingkan mata, dia menemukan pemandangan ironis.

Di depan stan buah di seberang jalan sana, seorang bapak berperut buncit dan bertubuh tambun, mencengkram tangan seorang anak lelaki, yang Laura taksir umurnya menginjak angka ke sepuluh.
Bapak tersebut kemudian menarik tangan anak yang kini terlihat menangis itu. Tak tega, sepasang kaki jenjang Laura yang sekarang hanya dilingkupi flat shoes peninggalan jaman kuliah, mengayun keluar rumah makan, menyebrangi jalan terburu-buru, menghampiri keduanya yang tengah menjadi sorotan banyak mata.

"Ada apa ini?" tanya Laura, kontan membuat bapak bertubuh tambun menoleh padanya. Air mukanya begitu garang, melebihi ekspektasi Laura. Ada rasa menciut, namun wanita itu lebih mengedepankan rasa peduli.

"Mbak siapa? Nggak usah ikut campur urusan saya!"

Laura menarik napas sejenak. Sekilas, dilihatnya anak kecil yang tangannya masih dicengkram itu bergidik ketakutan. Orang-orang di sekitar perlahan mengerubungi mereka, pasti didorong rasa ingin tahu tanpa mau peduli. "Saya berhak ikut campur karena Bapak sudah menyakiti anak ini!”

Bapak bertubuh tambun tersebut memutar badan, menghadapnya. Mukanya yang semula merah, bertambah merah. Laura seakan melihat asap keluar dari hidung dan dua telinganya. "Anak ini nyuri dagangan saya! Saya berhak menyakitinya dan saya berhak membawanya ke kantor polisi. Bajingan cilik seperti dia," jari telunjuknya yang besar dipenuhi lemak menunjuk si anak kecil, "pantas mendekam di penjara," ucapnya berapi-api.

"Berapa buah yang dia curi?"

"Dua."

Laura melebarkan mata, tak percaya. Hanya dua, tetapi bapak ini begitu murka pada sang anak? Bapak itu hanya dicuri dua buahnya! Bukan dicuri emas dua batangnya! "Hanya dua buah, tapi bapak semarah ini pada anak itu?"

"Mbak! Begitu-begitu membelinya dengan uang! Uang itu tidak mudah untuk dicari? Saya mengeluarkan uang membeli buah-buah ini bukan untuk dicuri!"

"Berapa harganya? Biar saya yang ganti rugi."

"Tiga ratus ribu!"

Sebelah tangan Laura bergerak cepat di dalam tas selempang merahnya untuk menemukan dompet. Dia membuka dompet dan bergeming. Hanya tersisa delapan lembar uang ratusan ribu. Uang itu seharusnya untuk memenuhi kebutuhan makan dan bensinnya selama dia belum mendapat pekerjaan.

Mengembuskan napas, dia menekan egonya. Urusan kebutuhan hidup hari esok dan seterusnya, bisa dia pikir nanti. Dia mengambil tiga lembar uang ratusan ribu tersebut, lantas mengangsurkannya ke bapak bertubuh tambun.

-oOo-

"Kenapa nggak dimakan?"

Banyu, anak kecil di depannya yang sedari tadi tak mau menjamah soto ayam di meja, menggeleng pelan. Kedua tangannya masih dia letakkan di bawah. "Ini dibungkus saja, Kak."
Kernyitan di dahi Laura bertambah dalam. Dia yakin sepenuhnya Banyu tengah lapar berat. Dalam perjalanan ke warung soto ini tadi, perutnya berbunyi nyaring berulang kali. "Lho, kenapa dibungkus? Aku tahu kamu pasti udah laper banget."

"Ini buat nenek Banyu di rumah saja."

Jawaban Banyu membekukan Laura seketika. Bila di waktu kecil dulu, Laura lebih mementingkan dirinya sendiri dan selalu merengek ingin kenginannya segera dipenuhi oleh orang tuanya yang sekarang telah tiada, bocah lelaki di depannya ini justru mementingkan orang lain terlebih dahulu tanpa peduli perutnya meraung-raung minta diisi?

Perlahan, Laura membuang udara dari paru-parunya. Digarisnya senyum di bibir. "Yang ini kamu makan dulu. Nanti aku pesenin satu lagi buat nenek kamu."

Banyu menatapnya dengan binar kentara. "Benar?"

Laura mengangguk. "Iya."

Setelahnya, Banyu menarik kedua sudut bibirnya ke atas, mencetak senyum lebar. Dia melahap soto ayamnya begitu lahap, seolah melupakan keberadaan Laura di depan yang hanya tersenyum melihatnya.

Laura tak langsung pulang. Dia ingin mengantar Banyu sampai rumah dengan motor matiknya. Dia juga ingin berjumpa dengan nenek anak itu. Jalan menuju ke rumah Banyu tidak jauh. Motor matiknya hanya perlu melewati dua gang kecil nan gelap dan jalan berkubang.

Ketika Banyu memintanya berhenti, Laura mengerem motornya di depan sebuah rumah kecil yang terbuat dari kayu. Banyu turun dari motor, Laura memarkir motornya di sana sembari mengarahkan pandangannya ke sekitar rumah yang hanya ditumbuhi pohon-pohon pisang dan jauh dari rumah penduduk lainnya.

Menoleh, Banyu yang berada di ambang pintu, mengajak Laura masuk, "Ayo masuk, Kak. Maaf, rumah kami memang kecil."

Laura melangkah, melewati pintu rumah Banyu dengan menunduk lantaran pintunya pendek. Dia mengikuti anak itu masuk ke dalam ruangan yang lebih kecil. Di atas kasur lusuh di dekat lemari baju yang tidak berpintu, dilihatnya seorang wanita tua terbaring lemah. Wanita itu pastilah nenek Banyu.

Napas tercekat di tenggorokan, Laura melihat tubuh nenek Banyu yang begitu kurus dengan tulang-tulang menonjol di daerah pundak hanya diselimuti sarung yang sebagian koyak. Napas wanita tua itu naik turun berat dengan mata terpejam.

Banyu duduk di sebelah neneknya. "Nek, Banyu udah pulang."

Kelopak keriputnya terbuka. Mata wanita tua itu yang setengah menyipit saat menatap Banyu, sarat akan kasih sayang.

-oOo-

"Kamu sekolah?"

Laura tahu, seharusnya dia tidak mengajukan pertanyaan sensitif seperti itu, namun dia tidak kuasa memendamnya di dalam hati.

Banyu mengangguk. Dia menatap lurus ke depan. Sebelah tangannya sibuk memainkan kerikil, lalu melemparnya ke pohon-pohon pisang yang berada beberapa meter di depan. "Banyu sekolah, Kak. Dapat beasiswa."

Suara jangkrik saling bersahut, Laura membuang napas lega. Dia bersyukur Banyu tidak memilih putus sekolah di saat keadannya seperti ini. Namun sesungguhnya, Laura menyayangkan perbuatan Banyu yang mencuri buah-buahan bapak bertubuh tambun tadi. Tetapi jika dilihat, sepertinya Banyu tidak melakukan perbuatan tak terpuji itu berulang kali.

"Banyu terpaksa mencuri buah di toko bapak tadi," tutur Banyu, seolah membaca pikiran Laura.

"Kenapa? Aku yakin kamu nggak pernah nyuri sebelumnya?"

Kepala Banyu menunduk, kerikil masih dimainkan sebelah tangan kecilnya. "Uang Banyu habis untuk membayar ganti rugi vas bunga tetangga yang Banyu pecahkan tadi siang. Banyu butuh buah itu untuk mengisi perut nenek."

Laura terdiam. Sebelah tangannya lalu terulur mengusap kepala anak itu, lembut. "Jangan mencuri seperti tadi lagi, Banyu. Walau terpaksa itu tetap nggak baik."

Kepala Banyu menggeleng kuat, penuh kesungguhan. "Banyu kapok, Kak. Banyu nggak akan mengulanginya lagi."

Senyum senang tercetak di bibir Laura. Terbersit pertanyaan lain di otaknya. "Orang tua kamu ke mana, Banyu? Dari tadi nggak kelihatan. Masih kerja?"

"Orang tua Banyu sudah meninggal, Kak. Kata nenek, ibu sama bapak sudah ditempatkan Tuhan di tempat paling indah."

Laura tertegun. Dia diserang rasa bersalah lantaran melontarkan pertanyaan barusan. "Maaf, aku nggak bermaksud...."

"Nggak apa, Kak." Anak kecil itu menoleh dan tersenyum, terlihat tegar.

Laura menghela napas dalam. Tangan semu, dia rasai memeluntir paru-parunya kuat, hingga sesak. 
Dia tahu perasaan Banyu lantaran mereka sama. Sama-sama kehilangan orang tua. Sungguh, itu jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan uang dan harta. Namun, Banyu terlihat begitu dewasa menghadapinya. Tidak seperti Laura yang setelah kepergian orang tuanya justru haus akan kemewahan.

Beralih ke bintang-bintang yang serserak di langit malam cerah yang memayunginya, Laura bertanya pelan, "Banyu, kamu bahagia dengan hidupmu yang seperti ini?"

"Banyu bahagia." Mendengar nada sungguh-sungguh itu, Laura menoleh dan mendapati Banyu tengah tersenyum lebar. "Banyu bahagia Tuhan memberi Banyu nenek yang sangat sayang pada Banyu. Banyu bahagia Tuhan mengijinkan Banyu belajar membaca dan menulis di bangku sekolah. Banyu bahagia sudah tertangkap saat mencuri tadi, jadi supaya Banyu kapok. Dan Banyu bahagia bisa bertemu dengan orang sebaik Kakak."

Air mata tergenang di pelupuk mata, Laura menyimpul senyum untuk Banyu. Berbagai rasa melingkupinya. Namun, rasa haru, bahagia, dan syukur yang mendominasi benak Laura. Bertemu dengan Banyu, telah menyadarkannya banyak hal. Dia sadar bahwa setiap hal patut untuk disyukuri. Dilimpahi masalah justru menjadi tanda bahwa Tuhan sayang pada kita. Dia ingin kita menjadi manusia yang kuat seperti benteng yang terus tetap berdiri kukuh ketika angin berusaha merobohkannya. Banyu mampu memantik semangat Laura untuk memperbaiki hidup. Wanita itu siap menghadapi hari esok dan seterusnya.

-End-

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini, xoxo.


Comments

Popular Posts